Melayani Tamu = Branding Sekolah

Menyukai dunia pendidikan, strategi branding dan marketing untuk sekolah dan lembaga serta secangkir kopi hitam tanpa gula. Kenalan yuk!

2 menit

Percaya atau tidak, saya sih percaya sekali. Bahwa jika ada tamu, maka itu adalah kesempatan emas untuk menjadi wasilah bagi datangnya rezeki dan keberkahan lain yang akan datang.

Oleh karena itu, sedari dulu saya selalu diajarkan oleh orangtua saya untuk mempersiapkan sebaik mungkin, sesempurna mungkin jika ada tamu yang datang ke rumah.

Makanan terbaik disuguhkan, minuman terbaik disiapkan, tempat, dan semuanya tidak luput dari persiapan. Demi untuk membuat nyaman dan bahagia tamu yang datang.
Orang jawa bilang, kalau ada tamu harus “Gupuh, lungguh, suguh”.

Gupuh, lungguh, suguh

Gupuh artinya harus bersegera menyambut tamu, tidak boleh bersantai-santai saat ada tamu dan tidak bersegera memberikan layanan terbaik.

Lungguh artinya mempersilakan duduk dengan menyiapkan tempat dan ruangan terbaik. Jangan sampai tamunya malah terlalu lama berdiri.

Suguh artinya menyuguhkan yang terbaik, baik itu dari makanan, minuman dan pelayanan lain yang akan kita hidangkan.

Filosofi ini selaras dengan Sabda Rasulullah SAW dalam Hadits:

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

[HR. Bukhari, no. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim, no. 47]

Berkahnya datang tamu kita, terutama saat kita mampu membahagiakan tamu yang datang, maka akan diturunkan berkah dan rezeki yang tidak terduga. Sayapun sering membuktikannya. Semoga anda juga membuktikan hal ini.

Baca juga  Rezeki Tak Kemana-mana

Bagaimana menerapkannya di lembaga?

Saya ilmul yaqin, konsep ini berkaitan erat dengan pelayanan prima (excellent service). Saat lembaga berhasil memberi pelayanan prima pada tamu yang datang, tanpa melihat dan membeda-bedakan, akan muncul ‘sesuatu’ yang disebut dengan bahasa brandingnya “persepsi” dan “pengalaman spesial”.

Persepsi dan pengalaman bahagia ini yang mereka dapatkan, akan membuat kepercayaan terhadap lembaga kita semakin tinggi.

Begitupun sebaliknya. Saat kita gagal memberikan pelayanan yang prima terhadap tamu yang datang, terutama walimurid.

Jangan harap PPDB kita nanti terpenuhi, jangan harap PPDB berjalan sukses, dan jangan harap komplain walimurid tentang sekolah dan lembaga kita bisa selesai dengan baik.

Sudah banyak lembaga besar membuktikan bahwa pelayanan prima untuk tamu, seperti halnya Baginda Rasulullah SAW memberi contoh, akan mendatangkan keberkahan dan karunia yang tidak disangka-sangka.

Jadi, masih suka menyia-nyiakan tamu?

Dapatkan info terbaru
melalui email..

1 thought on “Melayani Tamu = Branding Sekolah”

Leave a Reply