Kamis, 23 Agustus 2018

Catatan Secangkir Kopi Hitam (CSKH) Day #18 - Antrian


Suara pemanggil para penumpang pesawat saya menuju Surabaya begitu menggema. Sedikit mengagetkan saya yang tengah asyik menuntaskan salah satu buku yang sampai saat ini belum selesai terbaca.

Setelah 3 menit pengumuman tadi, saya dan rekan saya beranjak dari tempat duduk yang terasa cukup dingin terkena paparan angin pendingin yang nge-joz.

Antriannya cukup panjang. Maklum, baru kali ini perjalanan Banjarmasin-Surabaya dengan maskapai berbeda dan tentunya tanpa pengumuman delai yang bisa bikin dengkul lemas.

Saya kira-kira berada di antrian jarak 3 meteran dari petugas boarding. Di depan saya ada seorang laki2 berkaos kuning. Saya menjaga jarak yang cukup lebar dengan pria tersebut. Selain bawaan yang cukup banyak, ditambah dengan pria tersebut membawa tas punggung yang meluber (baca: besar dan lebar) juga.

Tiba-tiba, sekonyong-konyong, ada 3 orang. Sepasang suami-istri dan satu orang anak perempuan yang kira-kira masih duduk di kelas 3 SD menyelonong masuk antrian pas di depan saya.

Anak perempuan kecil itu sedikit gusar sambil sedikit berteriak karena digeret oleh ayahnya yang kelihatan sedikit tergesa-gesa. "Lho, itu kan punyanya orang pa...!!", sergah si kecil.

Ayahnya tampak acuh tak acuh, tidak memperdulikan sautan si anak perempuannya. Saya dan teman saya saling berpandangan dan menertawakan tingkah si ayah yang memaksa masuk nyelonong ke dalam antrian sedangkan putrinya sendiri mengkomplain tindakannya.

Karena lelah mendera, saya neggan untuk menegur ataupun mengingatkan si bapak yang satu ini. Apa mungkin karena dulu pernah saya tegur secara langsung, malah saya balik di ceramahin dan dicurhatin panjang kali lebar. Tanpa ada kata maaf.

Nah, saya yang selama 3 hari mengisi pelatihan wali kelas yang dalam rangka menyukseskan program pemerintah setempat tentang program penguatan karakter, menjadi speechless dan kehabisan kata-kata.

Saat siswa dan anak telah berhasil pelan-pelan dibiasakan karakter disiplin dan menghargai orang lain. Malah orangtuanya sendiri yang "merusak" budaya yang pelan-pelan tertanamkan di dalam diri si anak. Oke, meskipun saya percaya tidak semua orangtua yang suka nyelonong antrian, tetapi cukuplah menjadikan peringatan dan hikmah kepada saya sendiri ataupun anda yang sedang membaca ini. Orangtua juga menjadi kunci sukses keberhasilan pembangunan karakter, akhlak kalau kita seorang muslim menyebutnya.

Di sekolah para guru dan para pimpinan berupaya sebaik mungkin membuat sistem dan pembudayaan karakter yang baik (baca: akhlaqul karimah), eh, orangtuanya malah menghancurkannya dengan mengabaikan bahkan sengaja mengajarkan cara melanggarnya. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.

Wahai bapak yang menyalip antrian saya. Jika anda sedang baca ini atau diceritain orang yang baca ini. Saya tidak ingin mencaci anda ataupun mengutuk anda. Saya hanya ingin anda tidak melakukan kesalahan yang sama. Kecuali jika anda merasa apa yang anda lakukan itu adalah suatu "kebaikan". Tapi saya percaya semoga hal tersebut terjadi karena anda sedang khilaf. Memang kita manusia tempatnya salah dan dosa. Ketahuilah wahai bapak, tugas mendidik bukan hanya tugasnya para guru di sekolah, tapi tugas anda sebagai orangtua yang telah dititipi amanah yang luar biasa, amanah yang bisa menjadikan jembatan penghubung ke surga-Nya sekaligus jembatan rahmat bagi sesama. Saat anda mencoba bermain-main dengan sengaja melanggar batas kebaikan yang sudah berupaya ditanamkan oleh para guru-guru yang baik di sekolah, maka bisa jadi anda akan kehilangan potensi kebaikan yang sangat besar yang dimiliki oleh anak anda kelak.

Ah, kopi hitam martapura yang sedap ini jadi semakin pahit kali ini. Semoga kopi anda tidak terlalu pahit untuk menikmati sore yang indah ini..

Bagikan

Jangan lewatkan

Catatan Secangkir Kopi Hitam (CSKH) Day #18 - Antrian
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Tinggalkan komentar Anda disini! Komentar berbau2 iklan atau terang2 iklan akan saya bantu promosikan tapi bukan disini :D