Senin, 16 April 2018

Tertampar di Masjid!


Suatu sore saat selesai berkeringat-berkeringat bersama beberapa kawan dg sebuah bola bundar saya berkesempatan untuk beristirahat sekaligus menunaikan shalat Maghrib di sebuah Masjid.

Masjid ini biasanya saya lewati tatkala pulang kerumah. Karena jarum jam telah menunjuk di angka 6 lebih sedikit saya pun membelokkan kemudi motor ke arah Masjid ini.

Sesampainya di pelataran parkir yg masih banyak batu-batuan kecil saya memarkirkan si Meong. Tiba-tiba, seorang anak (mungkin usia sekitar 15-17 tahun) menghampiri lalu mengajak bersalaman dan bertanya dg suara dan pronounciation yg kurang jelas. Sedangkan yg saya tangkap dia bertanya, "mau apa? Sholat ya? Sudah selesai." Mungkin kira2 begitu maksudnya (semoga benar).

Nah, saya lalu bilang, "Iya, makanya kok sudah sepi. Tadi masih olahraga." sambil menunjuk seragam olahraga yg sedang saya kenakan.

Lalu ia tiba2 menjulurkan tangannya lalu memijat2 pundak kanan saya seraya tersenyum. Lalu kubalas dengan senyuman dan kubilang, "sebentar y mas, saya mau shalat dulu. Nitip tas ya?". Dia mengangguk tanda setuju dan sambil menunjuk ke arah tempat mengambil air wudhu.

Setelah selesai Shalat saya mendapati dia sedang duduk manis disamping tas yg saya titipkan untuk dijaga olehnya.

Lalu, saya bertanya bebrapa hal kepadanya termasuk apakah dia sekolah, dimana rumahnya, dan apa aktivitasnya.

Ia bercerita bahwa tiap hari ia standby di masjid ini, membantu membersihkan masjid dan menata2 sajadah dan perlengkapan shalat lainnya. Ia tdk bersekolah. Terakhir pendidikannya dituntaskannya di tingkat sekolah menengah pertama.

Hampir 10 menitan kami ngobrol dan diselingi senyum renyahnya serta kerutan di dahi saya karena berupaya sekaligus utk mencoba menangkap maksud dari kata2 yg seringnya tdk terdengar jelas.

Setelah dirasa cukup dan ditambah pula dg suara2 perut yg memanggil-manggil minta diisi saya berpamitan utk pulang kepadanya.

Hari ini saya merasa "ditampar" olehnya. Ditampar oleh rasa penerimaan yg ikhlas olehnya kepada saya yg masuk kategori orang asing. Perhatiannya melihat wajah lelah saya (efek main bola dan macetnya Surabaya) ia berinisiatif memberikan pijatan.

Ah, tamparannya bikin malu saya yg kadang2 masih belum "peka" dg sesama saudara di masjid atau di tempat lain. Wajah ramah nan bersahabat serta sambutan jabatan tangan yg hangat. Saya yg jg terkadang terjebak dg "casing" orang lain yg menyebabkan rasa enggan dan memilih menghindari kontak mata dg orang lain.

"Tamparan" ini membuat saya menyadari bahwa memang kecerdasan emosi (EQ) menjadi faktor yg lebih dipilih oleh para ahli untuk mencapai "kesuksesan" daripada tingkat intelegensia (IQ) belaka.

"Tamparan" ini juga membuat saya menyadari bahwa, untuk menjadi pribadi yg baik perlu menyederhanakan pandangan thd orang lain seperti pesan Pak Kyai saya dahulu. "Jika ingin sukses, lihatlah KELEBIHAN orang lain. Jangan pernah melihat KEKURANGAN orang lain yg membuatmu tidak adil dlm berfikir."

Ah, tamparannya juga bikin saya tidak sempat bertanya siapa namanya.

Bagikan

Jangan lewatkan

Tertampar di Masjid!
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Tinggalkan komentar Anda disini! Komentar berbau2 iklan atau terang2 iklan akan saya bantu promosikan tapi bukan disini :D