Senin, 08 Januari 2018

Ber-Jodoh dengan Jahe



Sudah lama saya ingin menuliskan tentang ini, tetapi baru keturutan sekarang. Entah dimulai dari kapan kejadian ini berulang hampir setiap kali ketemu masakan yg ber-jahe (baca: ada jahenya).

Setiap kali saya bertemu masakan yg ada jahenya, entah itu sayur atau jenis tumis2an, setiap kali mengambilnya dg mata tertutup atau terbuka tiba2 dipiring sudah nyempil di pinggir atau berkamuflase seolah2 jahe itu sepotong rendang sapi yg siap nendang.

Bahkan, jika orang lain yg mengambilkan saya lauk atau sayur tsb, jahe masih saja berpeluang utk tiba2 mak jemunuk ada dipiring saya. (Nb: ini sudah saya amati secara ilmiah dan mengikuti metodologi ilmiah dan terbukti secara data empirik).

Alamaak, jodoh memang gak kemana.

Berjodoh dg jahe adalah hal yg kadang membuat saya terharu. Karena yg saya kira rendang ternyata sebongkah jahe yg kecoklat-coklatan.

Dibalik jahe yg tersesat dipiring saya merupakan hikmah yg harus saya pecahkan sampai hari ini. Jahe tersebut membuat saya terus mengoptimalkan ketajaman otak kiri dan kanan saya agar menemukan hikmahnya. Menemukan hipotesa2 yg mungkin bisa mengalahkan hipotesa ilmiah para peneliti yg jurnalnya dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional.

Apa mungkin hal ini bisa saya angkat menjadi judul jurnal yg bisa menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang perjahean? Minimal menjawab misteri yg mungkin jg dialami sebagian penduduk bumi ini. Penduduk yg berjodoh dg jahe atau keluarganya jahe seperti laos, temulawak, yg biasa orang2 sebut empon2.

Bagaimana jika anda jadi saya yg berjodoh dg jahe? Mungkinkah kita bisa membentuk komunitas para jahe-ers yg mampu menemukan bersama hikmah ini serta membagikannya kepada masyarakat luas tentang kebermanfaatannya.

Ah, apapun itu hikmah yg bisa saya ambil sekarang adalah anda mungkin tersenyum geli membaca kisah saya ini dan paling tidak terhibur. Bisa juga sih anda merasa agak2 mual dan eneg membaca tulisan ini yg entah esensinya apa. Kata om saya yg sekarang jarang kelihatan di tivi,

Why so serious?
Just enjoy the life wisely.

Kalimat yg ke dua di atas murni tambahan dari saya.

Wes, silahkan berkomentar jika ingin. Silahkan tertawa jika ingin tertawa, tapi pastikan kejayusan cerita ini tdk membuat anda jadi enggan dan takut menyapa saya karena takut ketularan saya. Piss

Bagikan

Jangan lewatkan

Ber-Jodoh dengan Jahe
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Tinggalkan komentar Anda disini! Komentar berbau2 iklan atau terang2 iklan akan saya bantu promosikan tapi bukan disini :D