Kamis, 27 Februari 2020

Sistem Manajemen Mutu Sekolah, Seperti Apa?

Dok. Pribadi - Proses Coaching Manajemen di SIT Mutiara Bali
Manajemen mutu adalah salah satu upaya untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai standar dan memiliki nilai lebih.

Jika berbicara tentang sekolah, maka manajemen mutu di sekolah adalah dimana sekolah telah menjalankan sesuai standar dan memberikan layanan lebih.

Standar yang dimaksud adalah standar yang menjadi panutan dari sekolah. Pemerintah memberikan arahan untuk standarisasi berupa 8 Standar Nasional Pendidikan.

Standar ini terdiri dari 8 standar yang telah ditetapkan untuk menstandarisasi sekolah, baik sekolah negeri maupun swasta. Standar tersebut diantaranya adalah:

1. Standar Kompetensi Kelulusan
2. Standar Proses
3. Standar Isi
4. Standar Penilaian
5. Standar Tenaga Pendidik & Kependidikan
6. Standar Sarana dan prasarana
7. Standar Pengelolaan
8. Standar Pembiayaan

Melalui standarisasi tersebut, sekolah diharapkan menjalankan layanan pendidikan dengan "standar". Sehingga tidak ada lagi perbedaan yang terlalu besar antar sekolah, karena mempunyai standar yang sama/serupa.

Cerita berbeda lagi, jika kita berada di sekolah swasta. Standarisasi sangat diperlukan, namun tidak cukup jika hanya sesuai standar. Sebagai nilai diferensiasi (pembeda) sekaligus keunggulan, sekolah swasta sangat memerlukan strategi menciptakan "nilai lebih". Lebih dari standar yang telah ditetapkan pemerintah. 

Lalu bagaimana menciptakan NILAI LEBIH tersebut?

Berbicara tentang NILAI LEBIH, sangat berhubungan erat dengan manajemen yang diimplementasikan di sekolah. Maka, nilai lebih yang ada di manajemen tersebut bisa kita sebut Sistem Manajemen Mutu.

Ada 6 Prinsip Sistem Manajemen Mutu untuk menciptakan sistem manajemen bermutu, diantaranya adalah:

1. Kepemimpinan

Bicara tentang kepemimpinan di sekolah selalu berkaitan erat dengan bagaimana pimpinan sekolah (dalam hal ini kepala sekolah) menjadi figur teladan dalam hal komitmen menjalankan nilai yang dianut, ikut serta dalam setiap proses dan selalu mengedepankan kualitas kinerja. (Kita akan membahas ini lebih lengkap di kesempatan lain)

2. Kepuasan Walimurid

Menurut Malcom Bridge, kepuasan customer dalam manajemen mempunyai bobot 30%. Ini berarti, sepertiga dari manajemen dikatakan berhasil jika kita mampu memberikan kepuasan terhadap customer. Jika kita berbicara tentang sekolah, maka customer disini adalah walimurid kita.

Sudah seberapa puas walimurid terhadap layanan pendidikan yang telah kita berikan? Sudahkah mereka diberikan kesempatan untuk memberikan umpan balik, menyampaikan ketidakpuasannya dengan alur yang baik, serta apakah kita sudah memberikan prioritas yang tepat untuk meningkatkan kepuasan mereka?

3. Pemberdayaan SDM

Kepemimpinan yang sukses dalam organisasi juga terlihat dari bagaimana SDM yang ada ikut terlibat dan saling memberdayakan. Kita bisa mengupayakan hal berikut jika kita menginginkan SDM kita saling terlibat dan memberdayakan: a) Memberikan delegasi tugas dan tanggung jawab yang tepat dan optimal, b) Memberikan porsi pelatihan atau peningkatan kompetensi rutin, c) Melakukan komunikasi yang mengarah pada penguatan motivasi dan umpan balik positif, d) Memberikan reward atau penghargaan atas pencapaian para SDM kita.

4. Proses Perbaikan Berkelanjutan

Sistem manajemen yang baik salah satunya menggunakan pendekatan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action). Siklus ini memungkinkan kita melakukan proses perbaikan berkelanjutan saat pelaksanaan selesai. Sehingga, selalu ada perbaikan untuk recana dan pelaksanaan berikutnya. Perbaikan yang muncul jika kita melakukan proses siklus ini dengan istiqomah. Inovasi yang baik muncul saat proses PDCA ini berjalan dengan semestinya serta ditopang oleh SOP (Standar Operation Procedure) yang tepat dan optimal.

5. Pengukuran Kinerja

Melalui standarisasi yang tepat, manajemen sekolah harusnya sudah memiliki ukuran kesuksesan masing-masing bidang atau standar. Mulai dari jaminan mutu kualitas lulusan, tingkat kepuasan walimurid, kurikulum pembelajaran, proses pembelajaran, leveling guru, pengelolaan SDM dan sarpras, dll. Semakin jelas ukuran yang ditetapkan, maka semakin jelas pula aktivitas dan kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target kinerja tersebut, begitupun sebaliknya.

6. Kolaborasi atau Kemitraan

Di era disrupsi ini, kita tidak bisa bekerja sendirian. Kita membutuhkan partner atau mitra untuk bersama-sama meningkatkan mutu layanan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah kita.

Berjejaring dengan sekolah yang mempunyai mutu dan jaminan kualitas yang lebih baik bisa menjadi langkah strategis untuk poin ini. Bermitra dengan instansi pemerintah, UKM, tokoh masyarakat, atau institusi yang bisa kita maksimalkan untuk benchmarking (studi banding) maupun untuk menyukseskan program-program sekolah yang kita canangkan di awal tahun.

Kesimpulannya, jika kita menginginkan sistem manajemen di sekolah kita menjadi bermutu, maka keenam hal ini wajib menjadi prioritas kita.

Lalu, dimulai dari mana mengatur manajemen kita agar lebih bermutu? Simak di artikel selanjutnya.
Baca selengkapnya

Selasa, 27 Agustus 2019

Catatan Secangkir Kopi Hitam (CSKH) Day #20 - Ketakutan


Hari ini tepatnya hari Selasa, kantor kami sedang mengadakan Medical Check Up untuk semua karyawan.

Sedari kemarin kita sudah diworo-woro untuk menahan ngemil dan makan semenjak jam 8 malam. Wal hasil, saat masuk kantor. Hampir dipastikan semua orang sedang menikmati 'rasa lapar' yang menyerang.

Ruang kantor yang biasanya tidak terlalu ramai, bahkan cenderung tenang mendadak menjadi ramai riuh. Selain, membicarakan tentang prosesi pengambilan darah dan tentunya jeritan2 yang keluar saat hendak disuntikkan jarum pengambil darah.

Saya sendiri juga agak kecut, melihat jarum jam yang dipakai mbak2 perawat. Terakhir kali saya merasakan jarum suntik pengambil darah adalah 3 tahun yang lalu, dimana saya diharuskan untuk diambil darahnya tiap minggu. 

Dan momen ini sukses membuat saya dagdigdug seolah menunggu doorprize yang dibagikan.
Beruntungnya, saat prosesi pengambilan darah yang di awal, tampak menyeramkan dan sudah terbayang2 nyelekitnya, tidak terasa sakit. Hanya terasa seperti digigit semut merah.
Menariknya, saya jadi tertawa geli melihat ekspresi beberapa orang yang pucat pasi saat dipertemukan dengan mbak2 perawat yang sudah siap dengan sarung tangan dan suntik yang siap sedia jika dibutuhkan.
Takut. Perasaan yang dimiliki oleh manusia, sebagai fitrahnya makhluk sosial sekaligus makhluk individual yang dilengkapi dengan berbagai perasaan.
Setiap orang mempunyai ketakutan masing-masing. Ada yang dipertemukan dengan mbak2 perawat beserta jarum suntik yang nampak imut. Ada juga yang lari terbirit-birit saat berhadapan dengan kucing, rambutan, balon, badut de el el.

Lalu, yang menjadi pertanyaan. Apa yang bisa dilakukan untuk melawan rasa takut tersebut? Apa memang harus dilawan atau dinikmati? 2 pertanyaan yang mari kita jawab dan diskusikan sembari menikmati secangkir kopi hitam.

Jika saya ditanya 2 pertanyaan di atas sembari ngopi2, maka dipikiran saya tertuju pada Apa yang hendak dicapai saat bisa menaklukkan atau menikmati ketakutan tersebut? Apa dampaknya pada diri atau oranglain? Atau lebih keren, apa dampaknya pada produktifitas kita?

Saya masih berdebar-debar jika bertemu dengan bapak2 berkumis yang berseragam di pinggir jalan sembari menggunakan helm. Entah perasaan takut atau sedang jatuh hati...#eh

Entah karena berbagai pengalaman saat ditilang, kemudian ikut sidang kadang2 juga ikut sidang 1 menit di kantornya lalu selesai dengan mengeluarkan beberapa lembar rupiah.

Nah, abaikan cerita barusan. Kembali ke pertanyaan tentang ketakutan. Melawan atau menikmati. Jika saya disuruh melawan rasa takut itu seperti perasaan saya pertama kali dan awal-awal harus tampil di depan publik (sampai sekarang juga sih). Saya berupaya untuk:
  1. Tenang. Mengambil nafas yang panjang dan pelan sembari membaca doa. Karena saya percaya dengan ketenangan yg baik, maka ketakutan itu akan sirna dengan sendirinya.
  2. Mengendalikan Alur. Kamsud eh maksud saya adalah saat kita ketakutan, kita dikendalikan oleh emosi atau perasaan takut itu sendiri. Sehingga, kita kehilangan fungsi akal sehat yang seharusnya membuat lebih tenang dan bisa mengendalikan situasi (alias perasaan). Saat sudah tenang, saya biasanya mengalirkan perasaan positif (tenang) ke seluruh tubuh dengan bergerak bebas, gerakan-gerakan ringan. Dan mengupayakan untuk meningkatkan daya nalar dan logika. Serta memotivasi diri untuk tetap menikmati suasana.
Jadi kesimpulannya, saya melakukan keduanya. Melawan lalu 'menikmati', meskipun bukan menikmati ketakutannya, tetapi menikmati suasana dan alur cerita yang menjadi latar belakang ketakutan atau saya lebih suka menyebutnya tantangan.

Oh ya, ini mungkin tidak berlaku kepada perasaan takut akan adanya 'makhluk halus', 'penampakan2 gaib', atau ketakutan yang ekstrim. Bisa jadi ketakutan itu muncul karena persepsi, pengalaman bahkan trauma yang membutuhkan waktu dan sesi konseling untuk menyembuhkannya.

Jadi, anda sedang menikmati ketakutannya, melawannya dengan secangkir kopi?
Baca selengkapnya

Minggu, 25 Agustus 2019

ULAS BUKU - Why Training Fails (Part 1)


Assalamu'alaikum man-teman, kita mulai ulas buku yang baru saja saya selesaikan membaca beberapa hari yang lalu. Buku yang menurut saya cukup menarik, karena jika dilihat dari bentuk dan kemasannya. Ini buku termasuk textbook, semacam buku referensi seperti kita kuliah dulu.

Uniknya, cara penulisan yang biasanya kalau textbook agak njelimet, ini sangat mudah dimengerti.

Penulisnya, Mas Surya yang cukup aktif di media sosial dan anda bisa membayangkan gaya berbicara mas Surya jika cermat dalam membaca buku ini. Textbook yang biasa terkesan bacaan berat, terasa ringan dan asik untuk membaca halaman demi halamannya. Selain itu, contoh-contoh kasus yang sangat kontekstual alias terjadi disekitar kita, atau bahkan kita alami sendiri dibawakan dengan sangat smooth oleh Mas Surya.

Oke, langsung saja ulasannya. Buku yang berjudul Why Training Fails and What To Do About It ini, ringkasnya membahas 7 Sebab Mengapa Pelatihan Gagal.

Sebelum membahas tentang sebab-sebabnya, penulis mengajak pembaca untuk mendefinisikan ulang tentang apa itu training atau pelatihan, dan bagaimana seharusnya training itu dilaksanakan beserta dampak apa yg seharusnya muncul setelah dilaksanakannya proses pelatihan atau training.

7 Penyebab Kegagalan Pelatihan

1. Training yang diadakan, bukan training yang dibutuhkan

Penyebab pertama ini dikarenakan kurang optimalnya TNA (Training Need Analysis), atau analisis kebutuhan pelatihan. TNA ini bisa dilakukan dengan 3 cara: Observasi, diskusi/tanya jawab dan melihat penilaian kinerja. Harapan dari TNA ini adalah menemukan GAP antara kondisi kinerja dengan kinerja yg diharapkan.

2. Tujuan Training & Desain Training Tidak Pas

Desain training yang pas harusnya sesuai dengan tujuan training atau biasa disebut dengan Learning Objective. Guru menyebutnya dengan tujuan pembelajaran, jika bicara tentang pelatihan tentunya tujuan pelatihan. Learning Objective ini bisa diartikan suatu kondisi yang dicapai Trainee (peserta pelatihan) begitu selesai pelatihan untuk mendukung perubahan behavior/sikap dan kompetensi.

Learning Objective harus disusun secara JELAS. Tentunya, semakin jelas LO-nya maka semakin baik jalannya proses pelatihan dan dampak yang diinginkan tercapai.

Sedangkan pada pembahasan Desain Training paling tidak ada 3 hal yang harus diperhatikan:

1. Peserta pelatihan (trainee)
2. Tahapan pelatihan
3. Metode pelatihan

Ketiga hal ini harus selaras antara satu sama lain. Sebab, seorang trainer harus menyesuaikan metode dan tahapan pelatihannya dengan jenis atau karakter peserta pelatihannya.

3. Training didefinisikan sekedar forum belajar formal

Mas Surya memberikan pemaparan bahwa training bukan hanya di dalam kelas belaka. Namun ada beberapa jenis training atau pelatihan seperti:
a. In Class Training
b. Outdoor Training
c. E-Learning
d. Private Training
e. FGD (Focus Group Discussion)

Jenis training tersebut menyesuaikan dengan kebutuhan lembaga atau trainee.

4. Trainer Tidak Mampu Melaksanakan Petunjuk Teknis di Dalam Desain Training

Antara desain training dan trainernya sendiri perlu chemistry, karena terkadang trainernya tidak ikut terlibat dalam penyusunan desain training. Padahal, chemistry inilah yang membuat sebuah training memukau sekaligus mempunyai dampak yang cukup besar kepada para peserta training.

Selain itu, paling tidak ada 6 peran yang harus dilakukan oleh seorang training di dalam sesi pelatihan yaitu:

a. Observer: Pengamat. mengamati setiap proses dan peserta yang dilatihnya. Termasuk juga dengan lingkungan yang ada di sekitar peserta, dan terutama budaya, tradisi dan hal-hal menarik yang bisa membuat trainer semakin cepat berbaur dengan para pesertanya

b. Fasilitator: Pada dasarnya dalam pembelajaran orang dewasa (andragogi), trainer lebih banyak sebagai penyedia fasilitas, bukan hanya sekedar pusat pembelajaran atau sumber belajar.

c. Role Model: Menjadi panutan dan contoh. Mulai dari kedisiplinan, kerapian, motivasi, antusiasme. Sebelum menuntut peserta seperti itu, trainner harusnya sudah memulainya terlebih dahulu.

d. Instructor: Penginstruksi. Ada kalanya, trainer memberikan instruksi-instruksi verbal ataupun non verbal yang membuat peserta terlibat, aktif dan tetap dalam zona bersemangat.

e. Problem Solver: Penyelesai Masalah. Dalam sesi terntentu, beberapa peserta tentu menemukan masalah saat pelatihan atau membawa permasalah yang dialaminya di lembaga. Nah, saat itulah peran sebagai penyedia solusi atas permasalahan peserta diuji. Paling tidak, peserta pelatihan mendapatkan solusi sementara untuk bisa dibawa menjadi bekal saat kembali di lembaga masing-masing.

f. Feedback Provider: Penyedia masukan yang baik. Tidak ada seorangpun yang merasa nyaman jika disalahkan. Semua orang ingin dihargai dan diberi arahan bukan omelan atau tuduhan karena melakukan kesalahann. Tugas trainer adalah memberikan masukan atau umpan balik yang baik untuk perubahan diri lebih baik para peserta pelatihan, bukan malah mendorongnya ke zona 'kebencian' karena kesalahan kecil peserta pelatihan tersebut.

Lalu, bagaimana yang ke 5-7? Simak di ulasan berikutnya..
Baca selengkapnya

Jumat, 09 Agustus 2019

ULAS BUKU - Brain Gym and Me (Part 2)


Melanjutkan ulasan yang sebelumnya tentang buku Brain Gym and Me yang ditulis oleh Paul e. Dennison.

Kali ini sebelum menuntaskannya, kira-kira kurang 1/4 bagian buku ini tuntas terbaca. Saya mendapatkan insight menarik yang ingin saya ulas di tulisan kali ini.

Di Bab 5 ke atas, Dennison mengulas banyak tentang bagaimana bagian-bagian otak dan cara kerja bagian tersebut serta bagaimana memaksimalkannya. Salah satunya adalah tentang hemsifer kiri dan hemisfer kanan serta corpus collosum. Kita mengenalnya dengan belahan otak kiri, otak kanan dan otak tengah (penghubung otak kiri dan kanan).

Paradigma saya agak berubah setelah membaca bab 5-6 ini. Penulis menyampaikan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan kelengkapan organ otak yang luar biasa. Kita sendiri (manusia) yang memberi batasan penggunaan otak yang luar biasa ini.

Seperti halnya kita sedari kecil (mungkin berlaku untauk beberapa jenis generasi), melatih belahan otak kiri yang berhubungan dengan matematis dan analitis dan mengabaikan belahan kanan yang kini marak menjadi perhatian utama.

Seolah-olah kita membedakan golongan manusia berdasarkan penggunaan otak kanan dan kirinya. Penulis mengingatkan saya dan pembacanya bahwa Tuhan memberikan kedua belah otak ini bukan digunakan dan dimaksimalkan salah satunya, namun dikombinasikan, dikerjasamakan, dikolaborasikan dengan corpus collosum (jembatan) yang ada diantara keduanya.

Potensi tak terbatas manusia bisa terakses dengan memaksimalkan kolaborasi kedua belah otak kita.

Pada bab 7, pembahasan beralih kepada jantung (heart). Penulis menukil penelitian yang dilakukan oleh John dan Beatrice Lacey tentang otak dan jantung. Kesimpulan yang cukup menggemparkan dunia saat itu (1970-an). Pasangan Lacey menemukan bahwa, ketika otak mengirimkan suatu perintah kepada jantung, jantung tidak merespon dengan refleks seperti sebuah mesin. Tetapi, respons jantung terhadap sinyal yang dikirimkan otak terlihat bervariasi. Pasangan Lacey ini juga menemukan bahwa, jantung benar-benar mengirimkan perintahnya sendiri kepada otak dan otak merespon sesuai yag diterima.

Asumsi yang sedang berkembang saat itu, otak adalah pengatur segalanya yang ada di tubuh kita (organ tubuh). Ternyata, jantung justru yang lebih 'cerdas'. Mampu mengatur otak. Jantung terlihat berinteraksi dengan semua sistem tubuh dalam banyak cara.
Baca selengkapnya

Senin, 29 Juli 2019

Catatan: Tantangan Pendidikan Kini dan di Masa Depan (Bag. 2)


Melanjutkan catatan saya (baca bagian 1) saat mengikuti Forum Silaturahmi di kediaman Ust Abdul Kadir Baraja. Kali ini saya ingin membagikan catatan saya saat Prof. Mukhlas diberikan kesempatan untuk memaparkan pemikiran beliau.

FYI, Prof. Mukhlas adalah mantan Rektor UNESA 2010-2014. Beliau adalah Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan. Sampai saat inipun, beliau adalah salah rujukan rutin KPI dalam mengembangkan program.

Dalam sesi kali ini, beliau memaparkan beberapa hal yang jika saya buat daftarnya setidaknya ada 2 hal yakni sebagai berikut:
  1. Menurut beliau, saat ini persepsi masyarakat (khususnya di Jawa Timur) terkait pendidikan adalah mereka mulai memilih dan menaruh kepercayaan yang cukup tinggi di sekolah-sekolah Islam. Beliau mencontohkan salah satu fenomenanya, adalah saat beliau mudik ke Ponorogo. Sekolah negeri yang beliau waktu kecil, ternyata sudah tidak ada lagi. Kabarnya, sekolah negeri tersebut tidak bisa mendapatkan murid saat PPDB. Kebanyakan orang-orang memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah Islam. Fenomena ini tidak hanya terjadi di desa, tetapi juga di kota.
  2. Catatan beliau tentang perkembangan negara Vietnam yang diperoleh dari Buku World Development Report berupa kenaikan mutu pendidikan dan Index Capital Human yang cukup tinggi, bahkan mengalahkan Malaysia dan Thailand padahal GDP-nya masih di bawah negara kita. Menurut beliau, setidaknya ada 2 hal yang menyebabkan Vietnam bisa menyalip sedemikian cepat yakni: a) Daya Juang. Daya juang ini ditandai dengan masyarakatnya yang setia dan teguh dengan produk dalam negeri serta 'mengusir' produk-produk luar, terutama buatan Amerika dan b) Dimulai dari bawah. Di Vietnam mulai dari TK sekolah sudah menggandeng dengan baik orangtua. Fokus pemerintahnya kepada pendidikan usia dini.
Nah, dari kedua poin ini beliau kemudian mengusulkan kepada forum secara terbuka untuk bersinergi membentuk semacam lembaga riset dan dapat dimanfaat bersama.

Setelah anda membaca catatan ini, bagaimana menurut anda?
Baca selengkapnya

Sabtu, 13 Juli 2019

ULAS BUKU - Brain Gym and Me (Part 1)


Assalamu'alaikum teman2 sekalian. Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam keadaan sehat selalu...aamiin 

Hari ini kita akan mengulas buku yang baru 'separuh jalan' saya selesaikan untuk membacanya. Funfact lain adalah, saya membeli buku ini tahun 2013. Sudah 6 tahun yang lalu dan tersimpan masih dengan segel plastik yang menempel serta tertumpuk dengan buku2 kuliah di pojok lemari.

Oke langsung saja kita ulas.

Buku ini terbitan Grasindo pada tahun 2008, dialihbahasakan dari buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Paul E. Dennison. Seperti halnya gaya penulisan buku-buku luar, gaya penulisan buku ini mengedepankan cerita atau perjalanan hidup si penulis (pengalaman) saat masih kecil yang menemukan masalah-masalah dalam belajar dan dalam perjalanan serta prosesnya tidak sengaja mengambil prinsip-prinsip yang beliau beri judul Brain Gym.

Secara singkat, beliau menceritakan bahwa saat masih kecil beliau dikenal dengan tipikal anak yang sulit berkonsentrasi, kesulitan dalam menulis serta memahami pelajaran jika dibandingkan dengan teman-teman satu kelas lain.

Di Bab 1-4 beliau menceritakan pengalaman kecil beliau serta teori-teori perkembangan otak yang berhubungan dengan Brain Gym itu sendiri.

Sampai Bab 4 ini saya mulai menyimpulkan bahwa, gerakan-gerakan yang dilakukan dapat menstimulus pertumbuhan otak kita secara signifikan. Faktanya, beliau yang merangkum beberapa sesi terapi yang diberikan kepada kliennya yang rata-rata mengalami masalah dalam belajar, bahkan ada yang beberapa yang mengalami cerebal palsy (kelumpuhan akibat cidera otak).

Proses kemajuan dari klien tersebut tidak lepas dari terapi brain gym yang diberikan kepada mereka dan penulis membuat kita akan semakin tertarik untuk mengetahui Brain Gym ini lebih lanjut.

Sampai bab 4 ini, saya mendapatkan beliau mencontohkan 3 gerakan Brain Gym yang bisa kita coba. Gerakan yang pertama, adalah membuat angka 8 tidur. Seperti simbol tak terhingga dengan menggunakan telunjuk kiri sebanyak 3 kali. Kemudian membuat simbol tersebut dengan menggunakan kedua tangan (telunjuk kanan dan telunjuk kiri).

Gerakan ini akan membuat mata kita lebih 'nyaman' saat sudah mulai jenuh membaca atau melihat sesuatu. Andapun bisa mencobanya.

Gerakan kedua yakni sembari duduk atau berdiri, mengangkat tangan kiri ke atas. Kemudian, tangan kanan dilipat dan memgang siku tangan kiri di belakang kepala. Saat prosesi ini, beliau menyarankan untuk merasakan sensasi-sensasi di tangan kiri. seperti saat kita melakukan stretching sesaat sebelum senam. setelah menuntaskan gerakan ini, anda bisa merasakan bagaimana fokus dan konsentrasi kita. Hipitesanya adalah kita akan mengalami penyegaran dan lebih fokus serta lebih mudah dalam memahami sesuatu yang sedang kia pelajari.

Gerakan ketiga, dinamakan titik positif. Memegang, semi memijat dengan kedua tangan tepat di tengah di atas mata. di tengah antara batas rambut dan alis, dengan ujung jari-jari tiap tangan. Gunakan tekanan secukupnya untuk menarik kulit agar kencang dan tahan kontak itu selama sekitar satu menit.

Dalam keadaan stres, otot bagian depan pada kening adalah salah satu yang mengerut, sehingga dengan melakukan ini peredaran darah bagian depatn otak tidak terhambat, menyehatkan dan menumbuhkan serat-serat prefrontal (bagian depan otak).
Baca selengkapnya

Selasa, 09 Juli 2019

Catatan: Tantangan Pendidikan Kini dan di Masa Depan (Bag. 1)



Pada hari Ahad pagi tanggal 16 Juni 2019 pertemuan ini diadakan. Pertemuan yang rutin dilaksanakan di kediaman Dr. HC. Ir. Abdul Kadir Baraja setiap setelah lebaran. Forum Silaturahmi ini kali ini dihadiri oleh beberapa tokoh cendekiawan Islam dan perwakilan lembaga dakwah serta lembaga penyaluran infak dan zakat.

Pada pertemuan ini ada 4 pembicara yang memaparkan 'kuliah' singkat berserta pandangan-pandangan terhadap pendidikan Islam yang ada di Indonesia khususnya di Jawa Timur. Mulai dari Dr. HC. Ir. Abdul Kadir Baraja, Prof. Dr. Mukhlas Samani, M.Pd (Mantan Rektor UNESA), Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng (Rektor ITS) dan Prof. Ir. Joni Hermana, M.Sc.ES. Ph.D (Mantan Rektor ITS).

Di awal pertemuan, Pak Abdul Kadir menyampaikan 3 pertanyaan yang menjadi concern beliau yakni:
Apakah lembaga fokus sudah pada output dan outcome?
Apakah sudah mencapai target output dan outcome dicanangkan/ditetapkan?
Apakah output dan outcome punya andil dalam perubahan dakwah?
Setelah itu beliau menyampaikan beberapa data statistik pendidikan di Jawa Timur diantaranya yang berhasil saya catat adalah sebagai berikut:
  • Ada 3.394 SMA di Jawa Timur dan sebanyak 22,6% Sekolah Menengah Atas Islam di Surabaya mempunyai indeks mutu baik yang didasarkan pada raihan nilai Akreditasi.
  • Rangking 10 sekolah swasta terbaik di Jatim, 1 dari Sekolah Islam dan 9 diantaranya Sekolah Swasta Non Islam.
  • Data Kemendikbud 2015, Indeks Integritas UN (Kejujuran dan Prestasi UN) menunjukkan Ranking 1 dan 2 dari Sekolah Katholik. Indeks terbawah diraih Sekolah Islam.
Anda bisa membayangkan secara umum bagaimana kualitas pendidikan yang terjadi di Indonesia dan Jawa Timur. Dari data di atas, calon mahasiswa yg masuk di PTN dan PTS terbaik didominasi oleh siswa non muslim dan di masa depan, tenaga profesional akan dipenuhi oleh mereka. Dari Indeks Integritaspun kita pantas mengelus dada karena Sekolah Islam berada di urutan terbawah.

Setelah beliau memaparkan beberapa kenyataan berdasarkan data di atas, beliau menyatakan bahwa tantangan besar kita adalah menyiapkan SDM yg berkualitas, jujur dan pandai.

Bagaimana caranya? Kuncinya terletak pada KOLABORASI. Sedangkan tumpuan fokusnya pada tingkat dasar yakni di PAUD dan SD. Beliau melanjutkan, Sekolah seharusnya mengajarkan moral (akhlak) dan kompetensi. Padahal moral (akhlak) tidak bisa diajarkan, namun di contohkan. Hanya guru-guru bermoral (berakhlak) yang mampu mencetak para siswa dan alumni yang bermoral (berakhlak) pula.

Contoh sederhananya adalah saat barang di sekolah tidak ada yang hilang (barang yang tertinggal/ketinggalan). Ini salah satu indikator sekolah berhasil menanamkan karakter kejujuran. Sekolah adalah entitas lembaga pendidikan bangsa. Kualitas bangsa bisa dilihat dari kualitas sekolah (baca: pendidikan). Seharusnya, sekolah peka terhadap agenda besar bangsa yang salah satunya adalah memberantas korupsi.

Fakta yang terjadi sekarang di dunia pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah Islam adalah kita sendiri tidak bahagia ketika melihat orang lain (baca: sekolah lain) sukses dan bahagia. Kita enggan melakukan kolaborasi. Padahal, dakwah itu simfoni. Indah tatkala saling menguatkan dan bersinergi atau berkolaborasi.

Saat kita tidak ikut menjadi agen perubah karakter. Sesungguhnya kita adalah penyumbang 'racun' kepada bangsa kita sendiri. Keacuhan kita dalam memprioritaskan akhlak menjadi penyebab utama sumbangsih 'racun' selama ini.

To be continued...

Baca selengkapnya

Jumat, 05 April 2019

Balada Ng-ghosob Sendal


Sore itu selepas shalat Ashar di Masjid dekat kantor saya celingukan kanan kiri. Mencari sepasang sendal butut yang sebenarnya jika diperhatikan, panjang sebelah kanan dan kiri berbeda. Sungguh. Jika tidak percaya boleh mampir kantor dan saya perlihatkan sendalnya.

Sendal ini juga sebenarnya malah berbeda warna di kanan dan kirinya. Sebelah kanan biru dan sebelah kiri hijau. Mengapa? Saya juga tidak tahu brader. Sudah lama tersedia di deket tempat duduk saya.

Kembali ke kejadian saya yang clingak clinguk. Saya ingat betul posisi sepasang sendal tersebut yang parkir di sebelahnya kantor satpam. Meskipun sendal swalow biru ini adalah sendal sejuta umat yang jika hilang, ya sudah pasrah.

Tapi ini uniknya. Saat saya berclinguk ria, di depan saya tepat ada orang yang berbaju coklat sedang duduk manis. Mungkin karena mendengar saya ngocah-ngoceh mencari sendal. Kira-kira ia berseloroh begini, "Cari sendal ya? Tadi saya pakai sebentar disana!". Tanpa melihat saya, tanpa minta maaf dan sekaligus tanpa matursuwun. What!!

Saya sih sebenarnya biasa saja. Kalau hilang ya nyeker (baca: bertelanjang kaki) kembali ke kantor. Tetapi, entah mengapa dengan achicut (baca: attitude) yang mohon maaf, agak ngeselin sukses bikin saya nyengir sekaligus muncul perasaan aneh di dada. Apakah ini .....c i n t ....husshhh!

Kelakuan pria berkaos cokelat yang saya sendiri juga tidak bertanya siapa namanya dan nomer sepatunya berapa, membuat saya pulang manggut-manggut lalu bertanya dalam hati, "Apa saya pernah juga melakukan hal sama ya? Minjem gak pake ngomong2. Anak pondok bilangnya "ng-ghosob".

Seringnya, mungkin kita juga melakukan hal yang serupa namun tak sama. Lalai mengucapkan, "mohon maaf", "permisi", "terima kasih", "monggo", "tolong" dll. Kata-kata ajaib ini kadang atau bahkan sering dilupakan. Lebih ekstrimnya lagi seperti kejadian saya. Udah pinjem sendal gak bilang, gak minta maaf, gak matursuwun..wahhh, lengkap!

Oke mungkin saya agak lebai ya? Ah, enggak juga kan? Meskipun kejadian ini dilakukan 1 orang saya pun tidak bisa menjadikan ini sebagai acuan untuk men-generalisir semua atau sebagian dari kita begitu.

Pesan penting yang ingin saya sampaikan adalah jangan sampai seperti mas-mas baju coklat tadi. Jangan sampai anak didik kita melakukan hal serupa, bahkan kalau bisa sebaliknya bukan? Kebiasaan mengcapkan kata tolong, maaf, terima kasih, patutnya tetap menjadi kurikulum kita dan menjadi menu wajib untuk diingatkan kepada nak-kanak yang ada di kelas kita atau nak-kanak yang ada dirumah. Benull??
Baca selengkapnya