Jumat, 27 Maret 2020

Organisasi Minim Inovasi, Mengapa & Bagaimana?

Menurut istilah, inovasi berarti segala hal yang baru atau pembaharuan. Ada juga yang menyebut dengan penemuan yang dalam bahasa Inggris disebut dengan discovery dan invention, karena ditemukannya sesuatu yang baru, baik dalam arti rekayasa atau yang betul-betul baru karena tidak ada sebelumnya.
Baca selengkapnya

Selasa, 03 Maret 2020

Catatan Secangkir Kopi Hitam (CSKH) Day #21 - Pembawa Pesan


Malam itu saya berkunjung ke rumah orangtua yang sekaligus jadi tempat saya untuk nebeng makan malam. Menu kali ini adalah nasi kuning ditemani dengan beberapa lauk khas perayaan ulang tahun.

Saat itu, saat hendak bersiap-siap untuk pulang ke kontrakan, ada seorang ibu muda dengan membawa anak kecil. Mungkin seusia anak kelas 2 SD. Ceritanya, ibu muda ini ingin menjahitkan bet seragam anaknya yang baru diperolehnya dari sekolah.

Saat itu juga, sedang mendung dan terdengar suara petir menyambar dari kejauhan. Ibunya yang sedang asik ngobrol dengan ibu saya tentang bawaan jahitannya selain seragam sekolah. Si anak ini yang awalnya tenang, menjadi gelisah.

Entah karena malu-malu karena bertemu dengan orang baru, atau asumsi saya ia sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah.

Sembari merengek minta pulang, kemudian ia menggumam, "ayo pulang, hujan lho..". Ibunya yang awalnya masih tenang dan mencoba mengabaikannya, berubah sedikit kesal karena belum tuntasnya penjelasan yang ingin disampaikan kepada ibu saya.

Tiba-tiba, suara datangnya hujan terdengar dari luar. Rintik-rintik air hujan yang jatuh terlihat dengan jelas dengan pola bulatan di atas paving.

Lalu, dengan tergesa-gesa ibu dan anak ini pamit untuk undur diri.
____

Kita seringkali mengabaikan pesan, informasi, atau nasihat mungkin dari orang-orang yang tampak tidak penting atau levelnya di bawah kita. Level usia, pendidikan, pengalaman atau level yang kita ciptakan sendiri.

Pesan yang ternyata terbukti setelah terjadi. Seringnya juga, kita baru mengakui setelah terjadi betulan. Namun, kita belum sempat mengantisipasi atas terjadinya kejadian tersebut. Padahal, jika kita mengikhlaskan hati dan pendengaran kita sejenak untuk mendengarkan dan sekaligus mengakomodir ide, gagasan, pesan, nasihat dari orang tersebut, bisa jadi kita terhindar dari hal yang mengganggu stabilitas kita.

Lalu apa yang akan terjadi dengan organisasi kita?

Tiba-tiba ada anak muda yang kita pimpin, menemukan celah dan peluang munculnya masalah dan memberikan ide berupa nasihat yang tampaknya tidak penting dan membutuhkan energi yang cukup besar dalam mengeksekusi ide tersebut. Kita yang seringkali memandang sebelah mata akan ide ini. Atau kita merasa ide tersebut hanya fantasi belaka dari anak-anak muda yang jam terbang mengarungi kehidupan tidak bisa dibandingkan dengan kita dan para pimpinan yang berpuluh-puluh tahun duduk di struktur organisasi yang sudah membesar dan tampak kokoh.

Ketidakpekaan pendengaran dan keabaian kita terhadap ide-ide segar anak muda di organisasi kita, bisa jadi menjadi penyebab organisasi kita mengalami stagnasi yang panjang. Bahkan, terasa lelah berlari mengikuti perkembangan jaman yang begitu cepat berubah.

Bagaimana menurut anda?

Kopi saya sudah mulai dingin, rasanya butuh percikan semangat anak-anak muda untuk memanaskan secangkir kopi ini.
Baca selengkapnya

Sabtu, 29 Februari 2020

Ulasbuku Unboss Bagian 1

Organisasi dengan mental yang masih konvensional plus industrial membuat pergerakan organisasi di era serba berubah dan tidak pasti ini terasa lambat dan tertinggal.

Buku Unboss ini bagi saya sangat-amat menampar sebagian dari paradigma saya mengenai manajemen, terutama tentang kepemimpinan. 

Membaca buku ini, apalagi sembari melakukan refleksi dan mencatat lintasan-lintasan pikiran saat menuntaskan setiap paragrafnya membuat saya semakin percaya bahwa, sudah waktunya organisasi kita berubah. 

Unboss Organisasi anda berarti:

1. Mampu mengajak semua orang yang ada di organisasi untuk bersama-sama menciptakan value bersama (mimpi bersama)

2. Melupakan profit atau produk, fokus kepada customer untuk bersama-sama menciptakan value kebermanfaatan. Mengubah customer menjadi partner.

3. Memberikan kebebasan kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi untuk tumbuh dan berkembang.

4. Pegawai bukan mesin uang atau objek penerima perintah dan kontrol belaka.

5. Hilangkan hirarki dan mendorong kinerja tim

6. Mengupayakan tempat kerja yang nyaman dan menarik untuk orang-orang positif

7. Singkirkan timbangan kaku, bonus dan karyawan yang egois

8. Toleransi kesalahan dan berbicara secara terbuka

9. Memperkuat dialog dengan semua orang yang ada di organisasi

10. Hentikan kontrol  dan memulai kontrol otomatis.

Jika kita mampu melakukan unboss pada organisasi, tetap memastikan tidak terjadi Silo Effect atau mentalitas silo, sebuah kecenderungan mental ketika beberapa departemen atau sektor tertentu tidak bersedia atau cenderung tertutup untuk berbagi informasi dengan departemen lain di organisasi yang sama.

Efek samping dari mentalitas Silo ini bisa berupa komunikasi antar departemen yang buruk, koordinasi yang buruk, sinergitas yang buruk serta kolaborasi yang buruk. 

Penulis juga menyampaikan bahwa dengan mentalitas boss yang ada di organisasi kita, membuat organisasi sulit bertumbuh dan berkembang. Tanda organisasi kita masih bermental boss adalah birokrasi yang masih kaku, komunikasi berbasis kekuasaan atau struktural, dan struktur organisasi yang cenderung kaku.

Untuk memudahkan proses pergeseran dari mental boss ke unboss maka kita perlu melakukan pemetaan mental organisasi. 

Langkah-langkah mudahnya adalah sebagai berikut:

1. Menganalisis asumsi-asumsi yang ada di organisasi

2. Mencari asal, berapa lama dan mengapa muncul asumsi-asumsi tersebut

3. Memetakan kondisi sekarang atau lingkungan yang ada di sekitar organisasi serta relevansi asumsi-asumsi di dalam organisasi terhadap kebutuhan kekinian

4. Jika asumsi tersebut tidak sesuai, maka kita baru menyusun asumsi baru tentang manajemen kepemimpinan (UNBOSS)

Demikian ulasan bagian pertama dari Buku Unboss ini. Semoga bermanfaat dan simak edisi ulas buku selanjutnya.

Dapatkan ulasan buku-buku menarik lainnya via Telegram dan Whatsapp Grup dengan bergabung melalui tautan berikut: bit.ly/ikutulasbuku.
Baca selengkapnya

Jumat, 28 Februari 2020

Pelajaran Pelayanan Tulus dari Tukang Tambal Ban

Ilustrasi Foto Dok. Pribadi
Sore ini si meong terus memberikan peringatan kepada saya tentang roda-rodanya yang mulai kehilangan angin.

Efek sampingnya adalah geronjalan2 yang sangat terasa dan agak mbleyot (baca: tidak lurus) saat si meong melewati pembatas ruas jalan kanan dan kiri.

Penanda ini saya hapal betul dikarenakan ban minta ditiup. Tentu bukan saya tiup, tapi perlu ahlinya tiup.

Perjalanan pulang dari kantor yang ditemani awan-awan gelap yang menebal, membuat saya selalu terlewat untuk mampir di pengisian angin di pinggir jalan.

Sampai akhirnya, saya berhenti di salah satu gerai tambah angin yg kebetulan juga gerimis mulai datang.

Saat itu, setelah si meong saya parkirkan, dengan sigap bapak penunggu gerai tersebut langsung bertanya,

"Ada apa mas?"

"Ini pak, mau nambah angin"


"Oh ya, sebentar ya?"

"nggeh pak"


Lalu bapak ini segera mengulur selang angin dan mengarahkan ke kedua ban yg dimulai dari ban belakang.

Sembari memproses pengisian angin, bapak ini mempersilakan saya untuk ngiyup (baca: berteduh) dengan penuh perhatian karena gerimisnya semakin membesar. Seukuran kentang krispi.

Bukannya apa-apa, dari nada bicara, caranya mempersilakan dan cara bertanya beliau ini terasa betul ketulusan hati beliau.

Bukan karena SOP atau tuntutan semata.

Saya, karena agak tergesa-gesa mengucapkan terimakasih dan mengatakan kepada beliau bahwa saya langsung pakai jas hujan saja.

Sebelum beranjak pergi bapak ini kemudia tersenyum dan berpesan "hati2 di jalan y mas.."

Saya pun berpamitan dan undur diri dalam bahasa jawa: "Monggo, Pareng Pak.."

_____

Saya sangat terkesan dengan bagaimana bapak penyedia jasa tambal ban ini dalam memberikan pelayanan yang bisa dibilang sangat singkat, namun berkesan. Jika dirangkum, pelayanan tulus yang beliau berikan dan mungkin bisa menjadi standar pelayanan tulus kita kepada orang lain terutama customer kita yaitu:

1. Ramah

Tidak ada yang tidak menyukai orang yang ramah. Keramahan yang kita berikan kepada orang lain bisa menjadi sebab orang tersebut menyukai produk atau jasa yang kita tawarkan. Bukankah kita rela membayar agak mahal hanya demi mendapatkan pelayanan standar seperti di supermarket, dibandingkan dengan kita memperoleh harga murah tapi mendapatkan pelayanan yang ngeselin.

2. Perhatian

Semua orang menyukai diperhatikan. Tentu dengan perhatian yang sesuai, tidak berlebihan. Seperti halnya saat kita mendapatkan pelayanan dari barang atau jasa yang akan kita pakai, perhatian dari seller atau penyedia layanan jasa menjadi hal yang sangat dinantikan oleh customer. 

Perhatian terhadap kenyamanan customer, ketersediaan barang atau jasa yang dibutuhkan, bahkan perhatian terhadap hal-hal kecil dan tampak sepele. Sekelas Bank Swasta dengan omzet miliaran dolar pun sangat memperhatikan hal detil seperti alur pembuatan kartu ATM baru. Waktu tunggu yang ketat, birokrasi administrasi yang simpel dan bahkan selalu mendapatkan pengawalan dari supervisor.

3. Tulus

Khusus untuk poin ini mungkin sifatnya agak subyektif, namun bisa kita rasakan dan terbukti membuat customer yang datang akan datang kembali di kemudian hari. Ketulusan dalam pengertian saya seperti melakukan SOP bukan karena SOP itu sendiri, namun karena melakukan SOP tersebut memberikan kenyamanan dan kebaikan bagi customer itu sendiri. 

Contoh sederhana saat di pesawat, pramugari selalu tiada hentinya memperagakan cara menggunakan sabuk pengaman, menggunakan rompi keselamatan, dll. Saking seringnya, SOP yang menjadi rutinitas, terkesan hanya sekedar menjalankan SOP, tidak ada ketulusan yang tampak dan akhirnya membuat para penumpangpun tidak terlalu memberikan perhatian yang seharusnya. 

Contoh sederhana lain saat kita menanyakan, "Ada yang bisa kami bantu lagi Pak/Bu..?", adakah kesan keinginan kita membantu mereka sekedar SOP Menangani Customer atau memang kita benar-benar ingin membantu mereka yang datang, yang kebetulan berperan sebagai customer? 

Kesimpulannya, ketiga hal ini yang menjadi pelajaran yang saya peroleh saat mendapatkan pelayanan yang tulus dari seorang penyedia jasa tambal ban.

Lalu, bagaimana dengan pelayanan yang diberikan lembaga kita atau kita sendiri kepada para pelanggan atau customer kita? Sudahkah ke 3 hal ini menjadi bagian dari setiap SOP Pelayanan yang ada? Atau sebatas SOP yang tertulis dan menjadi rutinitas belaka?
Baca selengkapnya

Kamis, 27 Februari 2020

Sistem Manajemen Mutu Sekolah, Seperti Apa?

Dok. Pribadi - Proses Coaching Manajemen di SIT Mutiara Bali
Manajemen mutu adalah salah satu upaya untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai standar dan memiliki nilai lebih.

Jika berbicara tentang sekolah, maka manajemen mutu di sekolah adalah dimana sekolah telah menjalankan sesuai standar dan memberikan layanan lebih.

Standar yang dimaksud adalah standar yang menjadi panutan dari sekolah. Pemerintah memberikan arahan untuk standarisasi berupa 8 Standar Nasional Pendidikan.

Standar ini terdiri dari 8 standar yang telah ditetapkan untuk menstandarisasi sekolah, baik sekolah negeri maupun swasta. Standar tersebut diantaranya adalah:

1. Standar Kompetensi Kelulusan
2. Standar Proses
3. Standar Isi
4. Standar Penilaian
5. Standar Tenaga Pendidik & Kependidikan
6. Standar Sarana dan prasarana
7. Standar Pengelolaan
8. Standar Pembiayaan

Melalui standarisasi tersebut, sekolah diharapkan menjalankan layanan pendidikan dengan "standar". Sehingga tidak ada lagi perbedaan yang terlalu besar antar sekolah, karena mempunyai standar yang sama/serupa.

Cerita berbeda lagi, jika kita berada di sekolah swasta. Standarisasi sangat diperlukan, namun tidak cukup jika hanya sesuai standar. Sebagai nilai diferensiasi (pembeda) sekaligus keunggulan, sekolah swasta sangat memerlukan strategi menciptakan "nilai lebih". Lebih dari standar yang telah ditetapkan pemerintah. 

Lalu bagaimana menciptakan NILAI LEBIH tersebut?

Berbicara tentang NILAI LEBIH, sangat berhubungan erat dengan manajemen yang diimplementasikan di sekolah. Maka, nilai lebih yang ada di manajemen tersebut bisa kita sebut Sistem Manajemen Mutu.

Ada 6 Prinsip Sistem Manajemen Mutu untuk menciptakan sistem manajemen bermutu, diantaranya adalah:

1. Kepemimpinan

Bicara tentang kepemimpinan di sekolah selalu berkaitan erat dengan bagaimana pimpinan sekolah (dalam hal ini kepala sekolah) menjadi figur teladan dalam hal komitmen menjalankan nilai yang dianut, ikut serta dalam setiap proses dan selalu mengedepankan kualitas kinerja. (Kita akan membahas ini lebih lengkap di kesempatan lain)

2. Kepuasan Walimurid

Menurut Malcom Bridge, kepuasan customer dalam manajemen mempunyai bobot 30%. Ini berarti, sepertiga dari manajemen dikatakan berhasil jika kita mampu memberikan kepuasan terhadap customer. Jika kita berbicara tentang sekolah, maka customer disini adalah walimurid kita.

Sudah seberapa puas walimurid terhadap layanan pendidikan yang telah kita berikan? Sudahkah mereka diberikan kesempatan untuk memberikan umpan balik, menyampaikan ketidakpuasannya dengan alur yang baik, serta apakah kita sudah memberikan prioritas yang tepat untuk meningkatkan kepuasan mereka?

3. Pemberdayaan SDM

Kepemimpinan yang sukses dalam organisasi juga terlihat dari bagaimana SDM yang ada ikut terlibat dan saling memberdayakan. Kita bisa mengupayakan hal berikut jika kita menginginkan SDM kita saling terlibat dan memberdayakan: a) Memberikan delegasi tugas dan tanggung jawab yang tepat dan optimal, b) Memberikan porsi pelatihan atau peningkatan kompetensi rutin, c) Melakukan komunikasi yang mengarah pada penguatan motivasi dan umpan balik positif, d) Memberikan reward atau penghargaan atas pencapaian para SDM kita.

4. Proses Perbaikan Berkelanjutan

Sistem manajemen yang baik salah satunya menggunakan pendekatan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action). Siklus ini memungkinkan kita melakukan proses perbaikan berkelanjutan saat pelaksanaan selesai. Sehingga, selalu ada perbaikan untuk recana dan pelaksanaan berikutnya. Perbaikan yang muncul jika kita melakukan proses siklus ini dengan istiqomah. Inovasi yang baik muncul saat proses PDCA ini berjalan dengan semestinya serta ditopang oleh SOP (Standar Operation Procedure) yang tepat dan optimal.

5. Pengukuran Kinerja

Melalui standarisasi yang tepat, manajemen sekolah harusnya sudah memiliki ukuran kesuksesan masing-masing bidang atau standar. Mulai dari jaminan mutu kualitas lulusan, tingkat kepuasan walimurid, kurikulum pembelajaran, proses pembelajaran, leveling guru, pengelolaan SDM dan sarpras, dll. Semakin jelas ukuran yang ditetapkan, maka semakin jelas pula aktivitas dan kegiatan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target kinerja tersebut, begitupun sebaliknya.

6. Kolaborasi atau Kemitraan

Di era disrupsi ini, kita tidak bisa bekerja sendirian. Kita membutuhkan partner atau mitra untuk bersama-sama meningkatkan mutu layanan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah kita.

Berjejaring dengan sekolah yang mempunyai mutu dan jaminan kualitas yang lebih baik bisa menjadi langkah strategis untuk poin ini. Bermitra dengan instansi pemerintah, UKM, tokoh masyarakat, atau institusi yang bisa kita maksimalkan untuk benchmarking (studi banding) maupun untuk menyukseskan program-program sekolah yang kita canangkan di awal tahun.

Kesimpulannya, jika kita menginginkan sistem manajemen di sekolah kita menjadi bermutu, maka keenam hal ini wajib menjadi prioritas kita.

Lalu, dimulai dari mana mengatur manajemen kita agar lebih bermutu? Simak di artikel selanjutnya.
Baca selengkapnya

Selasa, 27 Agustus 2019

Catatan Secangkir Kopi Hitam (CSKH) Day #20 - Ketakutan


Hari ini tepatnya hari Selasa, kantor kami sedang mengadakan Medical Check Up untuk semua karyawan.

Sedari kemarin kita sudah diworo-woro untuk menahan ngemil dan makan semenjak jam 8 malam. Wal hasil, saat masuk kantor. Hampir dipastikan semua orang sedang menikmati 'rasa lapar' yang menyerang.

Ruang kantor yang biasanya tidak terlalu ramai, bahkan cenderung tenang mendadak menjadi ramai riuh. Selain, membicarakan tentang prosesi pengambilan darah dan tentunya jeritan2 yang keluar saat hendak disuntikkan jarum pengambil darah.

Saya sendiri juga agak kecut, melihat jarum jam yang dipakai mbak2 perawat. Terakhir kali saya merasakan jarum suntik pengambil darah adalah 3 tahun yang lalu, dimana saya diharuskan untuk diambil darahnya tiap minggu. 

Dan momen ini sukses membuat saya dagdigdug seolah menunggu doorprize yang dibagikan.
Beruntungnya, saat prosesi pengambilan darah yang di awal, tampak menyeramkan dan sudah terbayang2 nyelekitnya, tidak terasa sakit. Hanya terasa seperti digigit semut merah.
Menariknya, saya jadi tertawa geli melihat ekspresi beberapa orang yang pucat pasi saat dipertemukan dengan mbak2 perawat yang sudah siap dengan sarung tangan dan suntik yang siap sedia jika dibutuhkan.
Takut. Perasaan yang dimiliki oleh manusia, sebagai fitrahnya makhluk sosial sekaligus makhluk individual yang dilengkapi dengan berbagai perasaan.
Setiap orang mempunyai ketakutan masing-masing. Ada yang dipertemukan dengan mbak2 perawat beserta jarum suntik yang nampak imut. Ada juga yang lari terbirit-birit saat berhadapan dengan kucing, rambutan, balon, badut de el el.

Lalu, yang menjadi pertanyaan. Apa yang bisa dilakukan untuk melawan rasa takut tersebut? Apa memang harus dilawan atau dinikmati? 2 pertanyaan yang mari kita jawab dan diskusikan sembari menikmati secangkir kopi hitam.

Jika saya ditanya 2 pertanyaan di atas sembari ngopi2, maka dipikiran saya tertuju pada Apa yang hendak dicapai saat bisa menaklukkan atau menikmati ketakutan tersebut? Apa dampaknya pada diri atau oranglain? Atau lebih keren, apa dampaknya pada produktifitas kita?

Saya masih berdebar-debar jika bertemu dengan bapak2 berkumis yang berseragam di pinggir jalan sembari menggunakan helm. Entah perasaan takut atau sedang jatuh hati...#eh

Entah karena berbagai pengalaman saat ditilang, kemudian ikut sidang kadang2 juga ikut sidang 1 menit di kantornya lalu selesai dengan mengeluarkan beberapa lembar rupiah.

Nah, abaikan cerita barusan. Kembali ke pertanyaan tentang ketakutan. Melawan atau menikmati. Jika saya disuruh melawan rasa takut itu seperti perasaan saya pertama kali dan awal-awal harus tampil di depan publik (sampai sekarang juga sih). Saya berupaya untuk:
  1. Tenang. Mengambil nafas yang panjang dan pelan sembari membaca doa. Karena saya percaya dengan ketenangan yg baik, maka ketakutan itu akan sirna dengan sendirinya.
  2. Mengendalikan Alur. Kamsud eh maksud saya adalah saat kita ketakutan, kita dikendalikan oleh emosi atau perasaan takut itu sendiri. Sehingga, kita kehilangan fungsi akal sehat yang seharusnya membuat lebih tenang dan bisa mengendalikan situasi (alias perasaan). Saat sudah tenang, saya biasanya mengalirkan perasaan positif (tenang) ke seluruh tubuh dengan bergerak bebas, gerakan-gerakan ringan. Dan mengupayakan untuk meningkatkan daya nalar dan logika. Serta memotivasi diri untuk tetap menikmati suasana.
Jadi kesimpulannya, saya melakukan keduanya. Melawan lalu 'menikmati', meskipun bukan menikmati ketakutannya, tetapi menikmati suasana dan alur cerita yang menjadi latar belakang ketakutan atau saya lebih suka menyebutnya tantangan.

Oh ya, ini mungkin tidak berlaku kepada perasaan takut akan adanya 'makhluk halus', 'penampakan2 gaib', atau ketakutan yang ekstrim. Bisa jadi ketakutan itu muncul karena persepsi, pengalaman bahkan trauma yang membutuhkan waktu dan sesi konseling untuk menyembuhkannya.

Jadi, anda sedang menikmati ketakutannya, melawannya dengan secangkir kopi?
Baca selengkapnya

Minggu, 25 Agustus 2019

ULAS BUKU - Why Training Fails (Part 1)


Assalamu'alaikum man-teman, kita mulai ulas buku yang baru saja saya selesaikan membaca beberapa hari yang lalu. Buku yang menurut saya cukup menarik, karena jika dilihat dari bentuk dan kemasannya. Ini buku termasuk textbook, semacam buku referensi seperti kita kuliah dulu.

Uniknya, cara penulisan yang biasanya kalau textbook agak njelimet, ini sangat mudah dimengerti.

Penulisnya, Mas Surya yang cukup aktif di media sosial dan anda bisa membayangkan gaya berbicara mas Surya jika cermat dalam membaca buku ini. Textbook yang biasa terkesan bacaan berat, terasa ringan dan asik untuk membaca halaman demi halamannya. Selain itu, contoh-contoh kasus yang sangat kontekstual alias terjadi disekitar kita, atau bahkan kita alami sendiri dibawakan dengan sangat smooth oleh Mas Surya.

Oke, langsung saja ulasannya. Buku yang berjudul Why Training Fails and What To Do About It ini, ringkasnya membahas 7 Sebab Mengapa Pelatihan Gagal.

Sebelum membahas tentang sebab-sebabnya, penulis mengajak pembaca untuk mendefinisikan ulang tentang apa itu training atau pelatihan, dan bagaimana seharusnya training itu dilaksanakan beserta dampak apa yg seharusnya muncul setelah dilaksanakannya proses pelatihan atau training.

7 Penyebab Kegagalan Pelatihan

1. Training yang diadakan, bukan training yang dibutuhkan

Penyebab pertama ini dikarenakan kurang optimalnya TNA (Training Need Analysis), atau analisis kebutuhan pelatihan. TNA ini bisa dilakukan dengan 3 cara: Observasi, diskusi/tanya jawab dan melihat penilaian kinerja. Harapan dari TNA ini adalah menemukan GAP antara kondisi kinerja dengan kinerja yg diharapkan.

2. Tujuan Training & Desain Training Tidak Pas

Desain training yang pas harusnya sesuai dengan tujuan training atau biasa disebut dengan Learning Objective. Guru menyebutnya dengan tujuan pembelajaran, jika bicara tentang pelatihan tentunya tujuan pelatihan. Learning Objective ini bisa diartikan suatu kondisi yang dicapai Trainee (peserta pelatihan) begitu selesai pelatihan untuk mendukung perubahan behavior/sikap dan kompetensi.

Learning Objective harus disusun secara JELAS. Tentunya, semakin jelas LO-nya maka semakin baik jalannya proses pelatihan dan dampak yang diinginkan tercapai.

Sedangkan pada pembahasan Desain Training paling tidak ada 3 hal yang harus diperhatikan:

1. Peserta pelatihan (trainee)
2. Tahapan pelatihan
3. Metode pelatihan

Ketiga hal ini harus selaras antara satu sama lain. Sebab, seorang trainer harus menyesuaikan metode dan tahapan pelatihannya dengan jenis atau karakter peserta pelatihannya.

3. Training didefinisikan sekedar forum belajar formal

Mas Surya memberikan pemaparan bahwa training bukan hanya di dalam kelas belaka. Namun ada beberapa jenis training atau pelatihan seperti:
a. In Class Training
b. Outdoor Training
c. E-Learning
d. Private Training
e. FGD (Focus Group Discussion)

Jenis training tersebut menyesuaikan dengan kebutuhan lembaga atau trainee.

4. Trainer Tidak Mampu Melaksanakan Petunjuk Teknis di Dalam Desain Training

Antara desain training dan trainernya sendiri perlu chemistry, karena terkadang trainernya tidak ikut terlibat dalam penyusunan desain training. Padahal, chemistry inilah yang membuat sebuah training memukau sekaligus mempunyai dampak yang cukup besar kepada para peserta training.

Selain itu, paling tidak ada 6 peran yang harus dilakukan oleh seorang training di dalam sesi pelatihan yaitu:

a. Observer: Pengamat. mengamati setiap proses dan peserta yang dilatihnya. Termasuk juga dengan lingkungan yang ada di sekitar peserta, dan terutama budaya, tradisi dan hal-hal menarik yang bisa membuat trainer semakin cepat berbaur dengan para pesertanya

b. Fasilitator: Pada dasarnya dalam pembelajaran orang dewasa (andragogi), trainer lebih banyak sebagai penyedia fasilitas, bukan hanya sekedar pusat pembelajaran atau sumber belajar.

c. Role Model: Menjadi panutan dan contoh. Mulai dari kedisiplinan, kerapian, motivasi, antusiasme. Sebelum menuntut peserta seperti itu, trainner harusnya sudah memulainya terlebih dahulu.

d. Instructor: Penginstruksi. Ada kalanya, trainer memberikan instruksi-instruksi verbal ataupun non verbal yang membuat peserta terlibat, aktif dan tetap dalam zona bersemangat.

e. Problem Solver: Penyelesai Masalah. Dalam sesi terntentu, beberapa peserta tentu menemukan masalah saat pelatihan atau membawa permasalah yang dialaminya di lembaga. Nah, saat itulah peran sebagai penyedia solusi atas permasalahan peserta diuji. Paling tidak, peserta pelatihan mendapatkan solusi sementara untuk bisa dibawa menjadi bekal saat kembali di lembaga masing-masing.

f. Feedback Provider: Penyedia masukan yang baik. Tidak ada seorangpun yang merasa nyaman jika disalahkan. Semua orang ingin dihargai dan diberi arahan bukan omelan atau tuduhan karena melakukan kesalahann. Tugas trainer adalah memberikan masukan atau umpan balik yang baik untuk perubahan diri lebih baik para peserta pelatihan, bukan malah mendorongnya ke zona 'kebencian' karena kesalahan kecil peserta pelatihan tersebut.

Lalu, bagaimana yang ke 5-7? Simak di ulasan berikutnya..
Baca selengkapnya

Jumat, 09 Agustus 2019

ULAS BUKU - Brain Gym and Me (Part 2)


Melanjutkan ulasan yang sebelumnya tentang buku Brain Gym and Me yang ditulis oleh Paul e. Dennison.

Kali ini sebelum menuntaskannya, kira-kira kurang 1/4 bagian buku ini tuntas terbaca. Saya mendapatkan insight menarik yang ingin saya ulas di tulisan kali ini.

Di Bab 5 ke atas, Dennison mengulas banyak tentang bagaimana bagian-bagian otak dan cara kerja bagian tersebut serta bagaimana memaksimalkannya. Salah satunya adalah tentang hemsifer kiri dan hemisfer kanan serta corpus collosum. Kita mengenalnya dengan belahan otak kiri, otak kanan dan otak tengah (penghubung otak kiri dan kanan).

Paradigma saya agak berubah setelah membaca bab 5-6 ini. Penulis menyampaikan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan kelengkapan organ otak yang luar biasa. Kita sendiri (manusia) yang memberi batasan penggunaan otak yang luar biasa ini.

Seperti halnya kita sedari kecil (mungkin berlaku untauk beberapa jenis generasi), melatih belahan otak kiri yang berhubungan dengan matematis dan analitis dan mengabaikan belahan kanan yang kini marak menjadi perhatian utama.

Seolah-olah kita membedakan golongan manusia berdasarkan penggunaan otak kanan dan kirinya. Penulis mengingatkan saya dan pembacanya bahwa Tuhan memberikan kedua belah otak ini bukan digunakan dan dimaksimalkan salah satunya, namun dikombinasikan, dikerjasamakan, dikolaborasikan dengan corpus collosum (jembatan) yang ada diantara keduanya.

Potensi tak terbatas manusia bisa terakses dengan memaksimalkan kolaborasi kedua belah otak kita.

Pada bab 7, pembahasan beralih kepada jantung (heart). Penulis menukil penelitian yang dilakukan oleh John dan Beatrice Lacey tentang otak dan jantung. Kesimpulan yang cukup menggemparkan dunia saat itu (1970-an). Pasangan Lacey menemukan bahwa, ketika otak mengirimkan suatu perintah kepada jantung, jantung tidak merespon dengan refleks seperti sebuah mesin. Tetapi, respons jantung terhadap sinyal yang dikirimkan otak terlihat bervariasi. Pasangan Lacey ini juga menemukan bahwa, jantung benar-benar mengirimkan perintahnya sendiri kepada otak dan otak merespon sesuai yag diterima.

Asumsi yang sedang berkembang saat itu, otak adalah pengatur segalanya yang ada di tubuh kita (organ tubuh). Ternyata, jantung justru yang lebih 'cerdas'. Mampu mengatur otak. Jantung terlihat berinteraksi dengan semua sistem tubuh dalam banyak cara.
Baca selengkapnya